Cek di sini

Rabu, 18 Agustus 2021

[Cerpen] Teruntukmu, Pemberi Cokelat Hangat

 

Teruntukmu, Pemberi Cokelat Hangat

(Duniamimpigie)

 

Halo, apa kabarmu malam ini?

Aku sedang menyeduh cokelat instan kesukaanku, yang tiap kalinya mengingatkanku akanmu.

Ingatkah? Dulu kau yang mengenalkanku pada cokelat instan merek ini. Katamu kala itu, sebagai permintaan maaf sebab telah meninggalkanku sendiri dan pergi lebih dulu bersama teman-temanmu.

Padahal bagiku tak masalah. Lantaran aku sendiri yang datang tanpa diundang, tiba-tiba mengabarimu tengah hari aku sedang dalam perjalanan ke tempatmu, tanpa tahu-menahu kau sedang makan siang bersama rekan-rekan kerjamu.

Beruntung aku kenal beberapa di antara mereka dan—aku tahu kalian akan menyilakanku—kau membiarkanku bergabung. Aku tahu kau dan kawan-kawanmu akan menungguku hingga usai bersantap, maka aku sengaja memilih menu kecil. Toh, kau dan mereka harus segera kembali ke tempat kerja, bukan?

Petangnya, kau buru-buru menjemputku di restoran yang sama. Yang pertama kaulakukan, menyerahkan satu bingkisan berpita. Isinya: satu saset minuman cokelat instan, beberapa butir permen keras, satu bungkus biskuit cokelat, dan boneka penguin kecil yang bisa digunakan sebagai gantungan kunci. Mirip bingkisan ulang tahun anak-anak, pikirku kala itu.

Yang pertama kauucapkan, “Maaf, siang tadi aku meninggalkanmu buru-buru.”

Padahal sebetulnya kamu tidak salah. Dan kamu tidak perlu minta maaf. Apalagi sampai memberiku hadiah.

Kendati begitu, perasaan senang yang kautawarkan itu tetap kuterima sepenuh hati.

Aku terbayang-bayang, kau bingung mau memberi apa sebagai permintaan maaf untukku. Tapi tak ada tempat yang bisa disinggahi di kantormu selain koperasi karyawan yang alakadarnya.

Di situlah kau membeli minuman bubuk instan, biskuit, dan permen keras yang kauhadiahi kepadaku. Kutebak, sederhana alasannya: kamu pilih saja apa-apa yang kausendiri sukai.

Lantas, penguin berpitanya? Kutebak-tebak itu sampel produk buatanmu di kantor—barangkali yang ditolak, sebab aku tidak pernah melihat penguin itu sekali pun di pasaran—sebab pekerjaanmu memang itu, bukan? Mendesain mainan anak-anak? Aku tahu, kok.

Walau bukan hadiah yang rupawan pun mewah, bingkisan berpita sederhana nan murah itu menjadi kebahagiaan kecil yang kuingat senantiasa.

Kini, dua tahun berlalu, biskuit cokelatnya bukan penganan favoritku. Pun sejak kecil aku lebih menyukai permen empuk dibanding permen keras. Penguin beserta pitanya tersimpan rapi di kotak sepatu berwarna merah muda yang kualihfungsikan menjadi kotak-penyimpanan-barang-tak-berharga-yang-berharga.

Bagaimana dengan minuman cokelat instan tersebut?

Sedang kuminum di malam yang dingin ini. Membuatku terkenang akan kejadian hari itu yang membuatku terkenang akanmu.

Dulu kau memberiku dengan perasaan maaf.

Kini kuseduh dengan perasaan terima kasih.

Jadi, bagaimana kabarmu, malam ini? Masihkah cokelat instan ini minuman favoritmu?

Semoga kita bisa bertemu muka lagi di tahun ini, sebab rindu telah merajalela, kutahan-tahan hingga setahun penuh.

Dan, nanti, mari kita minum cokelat hangat bersama, lagi.

 

TAMAT

02.01.2021




— — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — —

Kisah mini ini saya tulis untuk salah seorang sahabat di kantor. Diambil dari kisah nyata (yang didramatisir, tentu saja). Orangnya sendiri sudah baca dan komennya cuma, “Eh? Aku gak ingat pernah kasih kamu minuman cokelat?” wkwkwkwk~

Dan, oh, saya kira-kiranya akan mulai membuka komisi menulis fiksi lagi dalam waktu dekat. Jika kalian tertarik, silakan hubungi saya saja. Trims!

Sabtu, 03 April 2021

[COMMISSION] Cinta di Kala Pertama - Long Live Asucaga

Fanfik Gundam SEED Athrun x Cagalli yang saya buat atas permintaan Long Live Asucaga, Februari 2021.

 

Baru kali ini Cagalli merasakan sesak yang begitu dalam, kelam, dan gelam. Pun baru kali ini ia tahu dirinya bisa berlari secepat itu, tanpa menatap jalan di hadapannya—atau tidak mampu, lantaran air mata telah membayang di pelupuk matanya.

Betapa ia ingin mengutuk hidupnya!

Baru sekali seumur hidup ada pemuda yang mengisi relung hatinya, walau tidak pernah lama ia berinteraksi dengannya, pemuda itu selalu ada di sudut-sudut hati dan pikirannya selama beberapa tahun belakangan.

Namun—tunangan!!

Dia ternyata sudah bertunangan!

Dengan seorang wanita berambut panjang indah, berparas cantik jelita, berpolah anggun, bergarisketurunan terpandang.

Mana mungkin Cagalli bisa mengungguli wanita sesempurna itu dan mendapatkan cinta pujaannya.

Athrun, Athrun, Athrun, Athrun—oh, sungguh nyeri ia rasakan tiap kali nama itu terucap di bibirnya! Kendati begitu, tak lepas nama tersebut dari bibir gadis itu, bak mantra yang menjadi satu-satunya tali penyelamat jiwanya. Cagalli tahu, jika ia berhenti merapalkan mantra itu, dirinya akan hancur, luluh lantak, hingga tak berbekas.

Setidaknya, biarkan bibirnya puas mengulang-ulang nama itu, hingga ia tiba di rumahnya, di kamarnya, di tengah kesendirian dan kegelapan; barulah ia boleh melepaskan seutas tali yang saat ini ia pegang erat-erat—yang gadis itu tahu jelas, akan membawanya kepada tangisan berderai.

*

Minggu, 14 Februari 2021

[COMMISSION] Berdua Bersama - Tsukiha Tsukiharu

Cerpen yang saya buat atas permintaan Tsukiha Tsukiharu, Januari 2021. 


“Uwah~ kamarmu biasa banget, Yui. Terlampau rapi, malah!”

Itulah ucapan pertama yang keluar dari mulut cewek berambut pendek berwarna pucat itu, yang sekaligus adalah teman masa kecil Yuichi: Oozora Ui.

“Kamu cowok kan? Kenapa bisa serapi ini sih? Biasanya cowok nggak rapi kan?” lanjutnya lagi, mencerocos tanpa henti sembari menggeret koper besarnya masuk ke ruang utama apartemen Yuichi—yang mulai hari ini akan menjadi apartemen mereka berdua: Yuichi dan Ui.

Ya, Shigure Yuichi dan Oozora Ui akan tinggal di bawah atap yang sama mulai hari ini.

Tidak ada yang aneh dari itu, setidak-tidaknya begitulah isi pikiran Yuichi dan Ui. Meski sering kali, mereka dipandang aneh oleh teman-teman sebayanya sewaktu masih di desa sebab hubungan mereka yang terlalu akrab.

Yuichi menyelak, sembari tangannya merebut gagang koper Ui tiba-tiba dan menggantikan cewek itu menggeretnya, “Sejak masih di desa dulu, kamu sudah sering masuk kamarku! Yang selalu rapi! Mestinya kamu nggak perlu seheran itu, dasar berlebihan!”

Ui membalas dengan kalimat yang masih sama panjangnya, “Yaaah… kukira kamu sudah berubah di kota besar. Atau, siapa tahu kota besar mengubahmu. Kan biasanya begitu orang-orang!”

Yuichi menggeleng-geleng melihat Ui yang masih saja banyak tingkah, “Dari tadi biasanya begini, biasanya begitu. Biasa melulu!”

“Ehehehe~” balas Ui, cengengesan.

Cowok itu lalu mengarahkan kakinya ke kanan, ke satu-satunya kamar kosong di apartemen tersebut.

“Bawaanmu cuma ini?” tanya Yuichi lagi, menyingkir dari ambang pintu agar sahabatnya itu bisa masuk dan melihat langsung kamar barunya dengan jelas.

Ui mengangguk, “Sisanya dikirim pakai ekspedisi. Yang kubawa hanya satu koper itu. Isinya hanya pakaian, laptop, dan alat-alat menggambar. Mungkin besok atau lusa sampai.”

Yuichi mengangguk.

“Kamu lapar kan? Sudah kusiapkan makanan seadanya, kare. Kamu mau?”

Ui tersenyum lebar mendengarnya. Wajar, sebab sudah sejak di stasiun tadi perutnya keroncongan.

“Mau! Mau kare atau omurice atau ramen instan pun, pasti bakal kulahap dalam sekejap! Apa saja tidak masalah, yang penting perut bisa kenyang!” balas Ui riang.

Yuichi turut tersenyum juga. Sudah setahun mereka terpisahkan, semenjak Yuichi pergi ke Tokyo setelah diterima bekerja sebagai programmer di suatu studio gim yang baru beberapa tahun merintis bisnisnya.

“Oke, kutunggu di ruang tengah. Kamu bongkar-bongkar saja dulu,” jelas Yuichi, bermaksud menata makanan yang akan disajikannya terlebih dulu di meja agar kawan lamanya itu bisa segera bersantap.

Namun, Ui malah mematung, kepalanya ditelengkan ke kanan dan kiri sembari jari telunjuknya ditaruh di depan bibir. Yuichi selalu geli saat melihat tingkah Ui yang seperti itu, menurutnya Ui seperti burung perkutut saja.

Ui malah nyengir, “Nanti saja beres-beresnya, kalau aku nggak malas!”

Yuichi menghela napas, “Dasar! Kalau begitu, bantu aku menyiapkan meja.”

Jumat, 08 Januari 2021

[Cerpen] Bunga di Ujung Hidung Anjingku

 Bunga di Ujung Hidung Anjingku

(Duniamimpigie)

 

Tumbuh bunga di ujung hidung anjingku.

Kelopaknya mungil berwarna kuning keemasan serupa bulunya. Serupa dedaunan pohon ginkgo di luar jendela apartemenku di musim kering. Aku menyukainya. Kurasa bunga kecil itu cocok untuk anjing lemon beagle-ku.

Aku suka anjing.

Aku suka bunga.

Kini, kumiliki anjing berbunga.

Hidupku sempurna.

… Sampai detik ini aku masih bertanya-tanya kapan ia lahir, saking inginnya aku merayakan ulang tahunnya. Namun, tiap kali kutanya, anjing berbungaku hanya mengguguk saja.

*

Selasa, 29 Desember 2020

[COMMISSION] Nohan dan Ferdinand - Istiana


Cerpen yang saya buat atas permintaan Istiana, November 2020. Fantasy, isekai, romance, magic. 

 

Barangkali nasibnya takkan jadi seperti ini seandainya ia tidak menyentuh cermin indah di toko antik yang kebetulan dilewatinya di kota kecil itu—yang kemudian secara ajaib mengisapnya dan membawanya ke negeri antah-berantah yang aneh ini.

Barangkali kedua tangannya takkan dirantai dan tubuhnya diseret-seret seandainya ia punya hati dingin yang tak mudah tersentuh kala melihat seorang anak kecil kelaparan, bahkan meski ia tidak kenal siapa anak itu.

Barangkali… barangkali….

Seandainya… seandainya….

Ah, lelah sudah Nohan Tara, gadis berusia 17 tahun itu, berandai-andai. Yang ia harus lakukan sesegera mungkin adalah membebaskan diri. Jika dia tidak sudi dijadikan budak di negara aneh yang asing baginya.

Itu saja.

Biasanya Nohan tidak selengah itu, apalagi jika hanya untuk mencuri sekerat roti gandum keras yang sudah berjamur dari suatu kedai gubuk di pasar tradisional pertama yang ia temui di tempat asing ini.

Tak disangka, paman gembrot penjaga kedai roti itu memiliki suatu kekuatan ajaib yang tidak masuk akal! Secercah sinar meletup di pergelangan tangan Nohan saat jemarinya menyentuh sekerat roti murahan itu, lalu api membara sekonyong-konyong.

Kaget bukan kepalang—kekagetannya bahkan membuatnya tak menyadari nyeri terbakar di pergelangan tangannya—Nohan hanya bisa termangu saat si paman gembrot itu meneriakinya maling lantas menyiulkan melodi singkat nan nyaring yang kemudian disusul kedatangan serombongan orang berjubah merah darah dengan topi kerucut.

Yang kemudian merantai kedua tangan Nohan.

“Sihir”, gadis itu mendengar mereka berkata. Tidak dibisik-bisikkan seolah itu rahasia, seperti halnya di negara—atau “dunia”—asalnya. Tampaknya kekuatan-kekuatan ajaib yang disebut “sihir” itu memang sesuatu yang lazim di tempat ini.

Sungguh, Nohan tak pernah menyangka, dirinya yang seorang pencuri profesional—ya, dia bangga akan profesi itu yang bikin orang-orang mencemoohnya—yang selama sepuluh tahun ditekuninya itu, ditaklukkan dengan mudah hanya dengan “sihir”! Keterlaluan!

Maka, Nohan hanya bisa menggertakkan gigi: perpaduan rasa teror, putus asa, dan amarah, bercampur baur hingga rasanya tubuh mungil gadis itu kaku bak batu.

Akankah ia berakhir menjadi budak di negara—“dunia”, berengsek! Nohan sudah tahu ini tidak lagi “dunia”-nya yang dia kenal!—asing yang dipenuhi hal-hal tak masuk akal?

Setidaknya, ia bisa bernapas lega melihat anak perempuan yang kelaparan itu berhasil memperoleh roti gandum ampasnya, meski dengan mata berlinang air mata dan ekspresi bersalah yang ditujukan kepadanya.

‘Tidak apa,’ batin Nohan, ‘ini bukan salahmu.’

Semoga saja ucapan hatinya itu tersampaikan kepada anak itu. Dengan demikian, mungkin Nohan bisa fokus ke kondisinya yang di ujung tanduk ini. Ia tahu, manusia normal yang buta akan “sihir” takkan mampu berbuat banyak. Namun, tak ada salahnya mencoba.

Ya, mencoba kabur dan bertaruh nyawa jauh lebih baik dibanding pasrah menjadi budak di dunia sihir.

Maka, Nohan menggeram, menarik sekuat tenaga tangannya yang dirantai hingga lepas dari genggaman musuh. Dan lari pontang-panting secepat kakinya sanggup—setidaknya ia percaya diri dengan kemampuan lari dan bersembunyinya, sebagai seorang pencuri ulung.

Hanya saja, lagi-lagi, sesuatu yang tak kasatmata membuat kakinya terantuk hebat, keseimbangannya hilang, dan Nohan pun jatuh berdebam ke tanah.

‘Habis sudah…’ pikir Nohan, memandangi sesosok berjubah merah darah itu mengacungkan sebatang tongkat kecil ke arahnya. ‘Aku tidak berdaya di hadapan sihir keparat itu! Secepat dan secerdik apa pun aku, aku tak bisa menandingi sihir di dunia ini!’

Gadis itu pun memejamkan mata erat-erat. Yakin bahwa itulah momen terakhir hidupnya.

Bibirnya bergetar saat memohon lirih, “To… long….”

Rabu, 25 November 2020

[COMMISSION] Tertundanya Cinta - Gisha


Cerpen yang saya buat atas permintaan Gisha, September 2020. Drama, school-life, romance.


Tak pernah terlintas satu kali pun dalam benak Della, bahwa ia akan berjumpa kembali dengan pria yang menjadi cinta pertamanya dulu:

Hadrian Lyn.

Tak pernah pula wanita itu lupa akan hari-hari kala ia mengejar sosok pria itu dari sudut matanya: di lorong kelas, di depan mading, di kantin, di perpustakaan, di klinik sekolah, maupun momen-momen berpapasan di ruang guru ketika hendak menyerahkan tugas.

Ia kira masa-masa mengejar cowok itu telah lama lewat dan Hadrian akan selalu menjadi sejarah di kehidupannya, yang perlahan-lahan akan menjadi samar hingga pupus ditelan arus waktu.

Sembilan tahun.

Segitu lamanya Hadrian bersemayam di dalam hatinya, tersembunyi dari siapa-siapa, bagaikan kotak kenangan rahasia di masa kanak-kanak: disimpan di tempat terbaik yang tak terjangkau orang lain, ditutup rapat-rapat, namun tak pernah dikunci selama-lamanya… yang sesekali diintip sedikit demi melegakan hati bahwa ia—kenangan itu—masih ada di sana.

Kendati demikian, sosok yang berdiri tepat di depan matanya, bukan lagi sekadar masa lalu. Ia nyata. Ia masa kini.

Ia Hadrian Lyn.

“… Della? Della kan? Chelsea Della Franziska?”

Ah, suaranya pun masih sama persis dengan yang diingat Della di zaman SMA dahulu: antara tenor dan bariton, nyaring, dan renyah; yang selalu membuat Della terheran-heran dengan dirinya sendiri sebab semua penyanyi pria yang digemarinya selama ini selalu memiliki suara rendah bass. Namun, suara cowok yang disukainya selama sembilan tahun ini malah berkebalikan.

Suara yang dulu senantiasa membuat dadanya berdegup kencang tiap kali mendengarnya.

Entah karena Della tidak langsung menjawab atau karena melihat tampang kebingungan wanita itu, sang pria mengulangi kembali pertanyaannya, “Masih ingat aku? Yang dulu sekolah di SMA Seiby Dreiza?”

Bak ditampar untuk kembali ke kenyataan, Della yang disapa hanya bisa menjawab dengan terbata-bata, kikuk, “A-aah… Iya, ini aku, Della. Dan… iya, a-a-aku masih ingat kamu, Hadrian.”

Mana mungkin aku lupa, batin Della, namun kata-kata itu akhirnya tersangkut saja di tenggorokannya yang mendadak terasa tercekat.

Hadrian mengangguk, “Kamu pemilik butik batik tulis ini?” tanyanya lagi. Matanya mengitari sekeliling butik, memandangi tiap kain yang dilipat rapi di etalase maupun yang digantung di dinding-dinding.

Della, yang masih seolah berada di awang-awang, hanya bisa mengangguk canggung.

“Waktu SMA enggak pernah kusangka kamu punya minat di bidang fesyen, Del, tahu-tahu sekarang sudah sehebat ini,” imbuhnya, penuh pujian yang tulus yang—sama tak disangkanya—masih memberikan efek debaran keras di hati Della.

Hadrian bukan cowok yang sering memuji, seingat Della. Ia bahkan bukan tipe cowok yang banyak bicara, hanya membuka mulut seperlunya. Tipe-tipe yang sering kali dianggap dingin, cuek, bergaul sekenanya saja.

Meski pada kenyataannya, Della tahu, cowok itu baik hati dan lembut di saat diperlukan.

“Aaah… Iya, karena di SMA dulu kerjaanku hanya belajar dan baca buku,” balas Della, merendahkan diri.

“Ya, makanya kau selalu juara,” ujar Hadrian lagi, kali ini diiringi senyum tipis.

Della serta-merta panik, khawatir wajahnya akan mendadak berubah semerah kepiting rebus di hadapan Hadrian yang baru ditemuinya lagi setelah jeda sembilan tahun.

Tidak boleh, tidak boleh, Della menguatkan diri. Ia tidak boleh bersikap memalukan. Hadrian hadir saat ini sebagai calon pelanggan barunya. Ini bisnis. Ini hubungan profesional.

Maka, Della menarik napas dalam-dalam, menata perasaannya kembali, lalu akhirnya berkata, “Hari ini mau beli kain apa? Untuk keperluan apa?” selayaknya yang ia selalu lakukan kepada pelanggan-pelanggannya yang datang ke butik Candra Batik Tulis miliknya ini.

“Aaah… aku perlu batik untuk seragam acara keluarga,” jelas pria berpenampilan kasual dengan kemeja lengan pendek dan celana jins di hadapannya itu.

Jantung Della kontan serasa terhenti. Apakah untuk acara lamaran? Pertunangan? Atau lebih parahnya lagi…

“Untuk acara pernikahanmu?” tanya Della. Ia sendiri kaget bukan kepalang, tak sadar isi pikirannya justru terlontar dari mulutnya.

Hadrian menggeleng, “Bukan, bukan. Untuk sekadar acara makan siang keluarga besar saja, kok,” ujarnya dengan nada sedikit malu-malu. Barangkali tak menyangka akan ditanya soal pernikahan oleh teman semasa SMA yang baru ditemuinya lagi.

Diam-diam Della menghela napas lega.

Tanpa memberi jeda bagi hati sang wanita untuk beristirahat, Hadrian melanjutkan, “Lagipula, aku punya calon pengantin saja belum.”

“O-oooh… Ha ha…”

Della hanya bisa meremas-remas tangannya dengan gugup. Tak bosan-bosannya ia mengingatkan dirinya sendiri bahwa ia sedang bekerja. Ia sedang menghadapi pelanggan. Hadrian hanya pelanggan. Ia harusnya melayaninya sebagai pemilik butik.

Bukannya malah meliriknya berkali-kali dari sudut mata, atau membicarakan hal-hal pribadi semisal pernikahan. Lagipula, apa kaitannya Della—yang notabene hanya teman sekelasnya di masa SMA—dengan cowok itu akan bertunangan atau lamaran atau bahkan menikah?

Tidak ada, tegas Della pada dirinya sendiri.

Antara dirinya dan Hadrian tidak ada apa-apa. Baik dulu, maupun sekarang. Tidak pernah, tidak ada, dan… tidak akan pernah ada.

[COMMISSION] Reforged Relationship - Tsukiha Tsukiharu


Cerpen yang saya buat atas permintaan Tsukiha Tsukiharu, Agustus 2020. Ditulis dengan gaya light novel jepang. Drama, school-life, romance, siblings.


Saat Hisakawa Tsukasa masuk ke kelas 2-2, ia merasa ada antusiasme yang berbeda dari biasanya di kelasnya. Tsukasa segera menuju bangkunya dan meletakkan tasnya. Dua kawan baiknya, Seshomaru dan Mikio, segera bergabung dengannya dan menginformasikan hal menarik.

“Katanya akan ada murid baru,” Sesho, lelaki bertubuh besar dan jagoan tim basket, memulai topik sembari duduk di kursi kosong di depan Tsukasa.

“Ho~ tak heran kenapa kelas berasa lebih antusias,” Tsukasa mengangguk, “cewek?” pemuda itu bertanya.

“Yeps,” Mikio, cowok paling pendek di kelas yang terkenal sebagai gentleman playboy, mengangguk, “dan dengar ini: katanya dia pindahan dari Himegasaki, lho!”

Himegasaki? Tsukasa merasa familiar dengan nama itu. Ah, tentu saja. Sekolah khusus perempuan yang konon hanya berisi ojou-sama, anak orang kaya dan genius. Sekolah khusus tuan putri. Sekolah itu ada di kota sebelah jadi banyak juga siswi di kota ini yang bersekolah di sana.

“Kenapa ada anak Himegasaki ke sekolah mediocre begini?” Tsukasa bertanya balik.

“Mediocre, katanya,” Seshomaru tertawa. “Meski ini sekolah negeri, jangan remehkan reputasi kita gitu dong. Kamu sendiri baru saja memenangkan turnamen prefektur kendo.”

“Nggak, lah! Dibandingkan Himegasaki, kita ini memang sekolah biasa, kan?” Mikio mengelak. “Sekolah ini terkenal cuma karena menang turnamen. Himegasaki, dari sejak dibangun, itu sekolah untuk orang elite.”

Himegasaki, eh? Tsukasa menghela napas. Ia tahu seseorang yang bersekolah di sana. Lamunan Tsukasa dan obrolan ketiga laki-laki muda itu kemudian terinterupsi bel sekolah dan beberapa menit kemudian, wali kelas mereka, Keichirou-sensei, memasuki kelas.

“Oke, sudah duduk semuanya?”

Keichirou-sensei menatap seisi kelas, kemudian mengangguk, “Sebelum aku melakukan absensi, akan kuperkenalkan murid baru di kelas ini. Masuklah, Oosaki-san.”

Seorang gadis memasuki kelas penuh percaya diri. Rambut panjang hitamnya tergerai indah dan gerakannya anggun. Entah kenapa ia masih mengenakan seragam Himegasaki, blazer biru muda dan rok selutut hitam.

“Nama saya Oosaki Tsukuyo. Salam kenal, semuanya.”

Ia membungkukkan badan. Saat berdiri kembali, kedua matanya yang terlapisi kacamata, mengecek seisi kelas.

“Kalian bisa berkenalan lebih lanjut nanti saat homeroom selesai,” Keichirou-sensei melanjutkan, “Oosaki-san, kau bisa duduk di sebelah Tsukasa,” ujarnya, menunjuk bangku kosong di sebelah Tsukasa.

Sang murid baru menatap bangku kosong itu lalu matanya bertemu dengan Tsukasa. Wajah gadis itu tampak terkejut sejenak, namun kemudian tersenyum lebar. Tsukasa sendiri juga terkejut, namun ia hanya diam, berusaha tidak menunjukkan ekspresi. Saat akhirnya Tsukuyo duduk di bangku di sebelah Tsukasa, Keichirou-sensei mulai memanggil nama-nama muridnya, mengecek siapa yang hari ini hadir.

“Lama tak jumpa, Nii-san,” Tsukuyo berbisik, cukup keras untuk didengar Tsukasa namun tak terlalu keras sampai orang lain mendengarnya.

Tsukasa melirik ke arahnya dan memberikan senyuman kecil, “Sejak SD, kan ya? Aku dengar dari Ayah kau masuk Himegasaki, tapi aku tak tahu kau pindah ke sini.”

“Ah, ada alasan kenapa aku harus meninggalkan Himegasaki,” wajah Tsukuyo tampak suram.

Tsukasa merasa telah menginjak ranjau jadi ia segera mengganti topik, “Kulihat kau sudah semakin besar,” ujarnya sembari tersenyum kecil.

“Nii-san, itu sekuhara lho,” Tsukuyo membalas dengan cekikik.

“Hoi, Tsukasa! Jangan coba menggoda anak baru di tengah homeroom,” Keichirou-sensei berteriak marah.

“Hahaha, maaf, Sensei,” balas Tsukasa ringan. Ia kemudian menatap gadis di sebelahnya, “Aku masih perlu tahu kenapa kamu bisa ada di sini.”

Tsukuyo hanya mengangguk dengan wajah masam.

*

Senin, 24 Agustus 2020

Fanfic SabiGiyuu - Limun Soda


Di hari yang terik sebelum memasuki libur musim panas itu, Sabito jarang-jarang berkesempatan menghabiskan istirahat makan siang bersama dua sahabat terbaiknya, Makomo dan Giyuu. Kali ini, mereka memilih duduk di bawah bayang-bayang di atap sekolah yang berangin.

Selasa, 10 Oktober 2017

[Cerpen] Kucing Abu, Bocah Merah, dan Tali Rafia

Kucing Abu, Bocah Merah, dan Tali Rafia
(Duniamimpigie)


Kakek Abu adalah seekor kucing berwarna abu yang sudah sangat tua. Suatu ketika ia mendapati ekornya telah diikat oleh anak-anak manusia dengan tali rafia berwarna merah—yang di matanya tampak usang, lusuh, kumal, dan penuh keburukan.
Kakek Abu sangat benci tali rafia di ekornya itu. Sejak ia memiliki tali itu di ekornya, ia jadi sangat mencolok perhatian dan tampak konyol. Manusia dewasa memang awamnya hanya lirik dan abai, namun anak-anak kerap menunjuk-nunjuknya dengan heboh dan bising, yang lantas mengajak orang dewasa memperhatikannya dan turut menunjuk-nunjuknya pula.
Yang lebih membuatnya tak tahan, justru seringai mencemooh dari sesama kucing dan para anjing yang jadi musuh bebuyutannya.
Sudah sekian minggu ia mencoba melepas tuntas tali rafia di ekornya itu dengan beragam cara: digigit, dicakar, dibenturkan ke dinding, dikaitkan ke paku, dan sebagainya; namun semua itu hanya berakhir dengan kegagalan.
Alih-alih, ia malah merasa tali rafia merah yang kusut, kotor, dan jelek itu seolah semakin terikat erat di ekornya.
Kakek Abu benci. Benci sekali. Terhadap tali rafia merah buruk rupa sekaligus sekelompok anak kecil bandel yang mengikatkan tali itu di ujung ekornya tempo lalu.
Tak habis pikir, apa tujuan mereka melakukannya? Apakah mengikat tali di ekor kucing itu sesuatu yang menghibur buat manusia? Untuk lantas ditertawakan bersama-sama? Heran. Heran. Heran. Marah. Sedih.

Tuhan, tolong lepaskan tali rafia merah yang warnanya pudar dan buruk rupa ini dari ekorku, batin Kakek Abu.

***

Sabtu, 04 Maret 2017

[Cerpen] Pagi / Untaian Jemari

Pagi / Untaian Jemari
(Duniamimpigie)


Sekonyong-konyong ia berbalik. Matanya menemukanku.

“Kok bisa tahu?”tanyaku, polos, penasaran.

Ia mengedikkan dagu, mengarah ke balik punggungku, lalu menelusurkan jari telunjuknya yang panjang dan berbonggol kokoh dari langit hingga membentuk garis diagonal imajiner yang berakhir di aspal di sampingnya.

“Sinar mataharinya. Bikin bayanganmu kelihatan sampai ke depanku, meski kau berusaha sembunyi di belakang.”

Aku melenguh. Kecewa rencanaku mengagetkannya gagal hanya karena matahari.

“Gagal nih?” balasnya. Bukan pertanyaan, sekadar ejekan yang disertai seringai jahil penuh kemenangan. “Lain kali kalau mau iseng, tunggu sampai matahari juga mendukungmu.” Kali ini diiringi derai tawa singkat—yang kusuka.

Lalu sunyi mendadak saja kembali mengalun di jalan setapak itu, yang sisi-sisinya dijajari pohon rindang. Pagi itu sepi, namun hangatnya menyelimuti hingga ke hatiku.

Aku terlambat terkekeh geli. Lalu berlari kecil menyusul dirinya yang sengaja menungguku tak jauh di depan.

Begitu langkah kami sejajar, ia turunkan sebelah tangannya yang sedari tadi erat menggenggam tas selempangnya, untuk kemudian ditelusukkan ke sela-sela jemariku yang senggang. Seolah, memang di situlah tempatnya. Seolah, kesepuluh jemari yang saling bertaut itu merupakan kepingan-kepingan puzzle; yang kini membentuk utuh, sempurna.

Lantas kami kembali menyusuri jalan itu; dengan tangan bertaut.


21-02-2017

Jumat, 13 Januari 2017

Kamis, 26 Mei 2016

[Puisi] Nir-


Terkadang, rasa-rasaku bukan manusia.
Barangkali sesekali hewan buas, yang tak mengaum. Bukan tak mampu, hanya saja tak jemawa, tanpa taring berbesi.

Kecut, tak ingin dipecut.
Hingga hanya sanggup terpaku, tanpa hati berbaja.

Tanpa, tanpa.

Apalah, tak seorang manusia sudi kujadikan karib. Bisa jadi sebab aku buas, sesekali, manusia, sesekali?
Bilamanakah kuperoleh kembali aumanku tatkala aku mewujud membuas?
Lalu, bilamanakah kuperoleh kembali hatiku tatkala aku mewujud manusia?
Adakah diri 'kan memberi?

Nir-, Nir-.
Sebab aku hanya Nir-.


26-05-2016

Rabu, 13 Januari 2016

[Fantranslation] Joan Aiken: “A Necklace of Raindrops”

Seuntai Kalung Rintik-Hujan
Penerjemah: Anggi Virgianti


Seorang pria bernama Pak Jones hidup di dekat laut dengan sang istri. Pada suatu malam berbadai Pak Jones sedang di kebunnya saat ia melihat pohon holly di samping gerbang mulai bergoyang dan berempasan.

Sewujud suara melolong, “Tolong aku! Aku tersangkut di pohon ini! Tolong aku, kalau tidak badai akan menerpa sepanjang malam.”

Terkejut bukan kepalang, Pak Jones berjalan menghampiri pohon tersebut. Di tengah-tengahnya tampak sesosok kakek tinggi dengan jubah kelabu panjang dan janggut yang juga kelabu panjang serta mata tecemerlang yang pernah kaulihat.

“Siapa engkau?” Pak Jones berujar. “Apa yang kaulakukan di pohon holly-ku?”

Senin, 14 Desember 2015

[Terjemahan] 法術 = Gramarye (from "Evil Eater" by Issei Eifuku & Kojino)

Pada bulan Desember ini, saya (alhamdulillah) kebanjiran order terjemahan naskah komik dari bahasa jepang ke bahasa indonesia.
Salah satunya komik yang berjudul "Evil Eater" yang dikarang Issei Eifuku dan digambar oleh Kojino (yang juga menggambar "Prizona 6")

Evil Eater 01 & 02 di pojok kanan bawah

Jujur, saya sangat-amat ngeri(?) dengan Evil Eater dibanding buku-buku lainnya. Kengerian itu dipicu selain karena genre Evil Eater yang termasuk sci-fi--yang jelas-jelas bukan genre bacaan favorit saya--juga karena banyaknya istilah dan kanji yang menyulitkan.

Sabtu, 05 Desember 2015

Review: Jip, His Story

Jip, His Story Jip, His Story by Katherine Paterson
My rating: 3 of 5 stars

Ternyata ini ceritanya mengenai isu perbudakan orang-orang Negro (keturunan Afrika) yang berada di Amerika Serikat pada pertengahan abad ke-19. Jip, si tokoh utama, awalnya dikira anak kaum gipsi yang terjatuh dari kereta kuda di daerah sebuah pertanian miskin. Namanya, Jip, pun diambil dari kata "gipsi".
Dari penyebutan-penyebutan diri Jip sebagai "anak gipsi" oleh orang-orang di sekitarnya, bisa ditarik kesimpulan kalau sebenarnya ada diskriminasi orang-orang kulit putih terhadap kaum ini juga, meski di novel ini gak dijabarkan dengan detail kenapa.
Masalahnya, ketika terungkap bahwa Jip ternyata bukan kaum gipsi melainkan anak budak Afrika, perlakuan yang didapatnya jauuuuuh lebih kejam. Gak peduli posisi Jip yang udah tinggal bersama-sama mereka dan bekerja keras sebagai anak pertanian miskin selama bertahun-tahun, pada akhirnya ketika terungkap dia anak budak, perlakuan orang-orang dewasa di sekitarnya jadi berubah drastis. Seorang ibu yang pada musim dingin lalu berani menitipkan anak perempuannya ke Jip untuk diurus, malah langsung menganggap Jip barang buruan begitu ketahuan dia anak budak Negro. Bener-bener gak masuk akal, tapi diskriminasi seperti ini masih sangat kuat di negara adidaya itu hingga saat ini, kita gak bisa menutup mata. Saya jadi teringat "To Kill a Mockingbird" karya Harper Lee yang juga membahas diskriminasi kulit putih dan hitam di sana.

Btw, saya sedih banget pas Put mati. Saya jadi sempet marah sama Jip karena dia keras kepala pengen membawa Put dalam pelariannya, padahal selain pesakit, Put juga udah tua dan gila. Mana bisa seorang anak tanggung kayak Jip bisa menjaganya sendirian.
Agak kesel juga kenapa si Luke Stevens gak datang tepat waktu untuk mengecek Jip saat bersembunyi di pondok tua di deket pertaniannya. Malah Jip keburu kabur nemuin Put dan melanjutkan perjalanan berdua--yang berujung pada kematian Put.
Adegan kematian Sheldon maupun Put, menurut saya, kurang klimaks. Tapi, justru, di situlah jadi berasa bahwa tokoh-tokoh yang sejak awal kehadirannya penting itu, bisa mati begitu saja. Dadakan. Gak pakai adegan pertarungan yang keren maupun perputaran kehidupan yang menyenangkan terlebih dulu. Efek yang saya terima pas baca jadi "berbeda".

Gitu deh.
Ini novel yang menarik.
Tapi... terjemahan dan editannya agak-agak bikin kliyengan yak ahahaha.... Kurang nikmat bacanya jadinya ||orz

Btw, ini buku dikasih temen saya yang tahu kalau saya selama ini nyari-nyari novel Paterson yang satu lagi: Bridge to Terabithia--yang sampai sekarang belum kesampaian juga untuk saya baca.

View all my reviews

Review: Pride and Prejudice

Pride and Prejudice Pride and Prejudice by Jane Austen
My rating: 3 of 5 stars

Hmmmmmmmmmm... Sementara teman-teman saya yang lain tergila-gila dengan buku ini dan menyodorkannya pada saya karena kata mereka, "BAGUS BANGET, GIE!!!"; saya malah acapkali merasa bosan saat membaca novel ini. Terlalu banyak basa-basi, mungkin, adalah faktor utamanya. Yah, memang mungkin berbasa-basi adalah suatu bentuk kesopanan dan keanggunan tersendiri pada zaman novel ini ditulis, tetapi... yah... bagi saya, itu menghambat saya dalam membaca dan membuat saya cenderung eeer... cepat bosan.

Padahal di sisi lain, saya sangaaaaat menyukai The Prince and the Pauper-nya Mark Twain, yang juga mendalami kehidupan masyarakat dan politik Inggris zaman dahulu.
Mungkin karena saya lebih menyukai cerita-cerita yang penuh petualangan semacam itu? Dibandingkan dengan Pride and Prejudice yang tokoh-tokohnya bangsawan melulu dan kerjaan mereka hanya saling berkunjung dan menyelenggarakan pesta dansa untuk mencari jodoh (yang bagi saya itu terdengar sangat konyol dan gak berarti--maafkan saya). Konfliknya pun melulu soal "siapa jodoh saya nanti?", "berapa banyak harta dan warisan bangsawan itu?", "seberapa tinggi derajatnya di kalangannya?", "seberapa cantik rupa nona keluarga itu?", "wanita buruk rupa tidak pantas bersanding dengan pria bermartabat itu, bukan?" dan lain-lain sebagainya.
Yah, bagi saya sih, itu konyol.


Tetapi, sekitar 100 halaman terakhir membuat saya mulai "melek" dan gak mudah ketiduran lagi pas membaca. Mungkin karena konfliknya mulai memanas dengan masalah Wickham dan Lydia, dengan CLBK-nya Bingley dan Jane, dan sudah adanya hubungan yang jelas antara Darcy dan Elizabeth.

Begitu deh.
Mungkin saya tipe-tipe yang lebih demen cerita-cerita yang mengutamakan konflik masyarakat kelas bawah seperti pada The Prince and the Pauper dibanding ngeliatin bangsawan kelas atas musingin warisan dan jodoh.
Iya, jadi ini masalah selera saja.


View all my reviews

Senin, 23 November 2015

[Review] Love Sign (Usami Maki)

Love Sign Vol. 2 Love Sign 1-5 by Maki Usami
My rating: 2 of 5 stars

Tokoh ceweknya gak manusiawiiiii!!! Dia terlampau seperti malaikat yang suci dan gak berdosa dan bernoda, yang seolah segala kebaikan umat manusia tuh ada di dia dan keburukan umat manusia tuh nihil dari dia!!!
Sungguh gak manusiawiiiiiii!!! Uwooooooorghhhh ngebaca cerita dengan tokoh utama sesuci malaikat tuh bikin saya geli dengan diri saya sendiri yang tampak seolah-olah begitu bejat jika dibandingkan si tokoh utama iniiiiii!!! Apalagi dia super ceroboooooh!!! Duh, saya paling gak demen kalau ada tokoh cewek yang ceroboh (apalagi jika bonus begok juga!) malah dianggap manis sama cowoknya!! Plis lah, cewek ceroboh itu mananya yang manis? Kalo boleh saya bilang, ceroboh itu bahasa halusnya "gak berguna". Gitu deh.
F-R-U-S-T-R-A-S-I.

Oke, oke, cukup menyindir-nyindir si cewek tokoh utama.
Eh? Iya, emang paragraf awal saya di atas itu "sindiran" kok. Saya gak bener-bener memandang diri saya sendiri bejat kok. Tapi kalau merasa "frustrasi" setelah baca ini, emang kenyataan :v

Hmmm... yah, bukan selera saya kali yak, cerita dengan tokoh utama se-"malaikat" ini ||orz
Apalagi tokoh utama cowoknya juga sebelas-duabelas sama ceweknya. Tipikal komik shoujo gitu deh. (Terus kenapa lo masih juga baca komik shoujo???) Soalnya kadang ada komik shoujo yang "manusiawi" yang bisa bikin saya demen sedemen-demennya, jadi yah... saya masih akan terus membaca-baca genre ini, tampaknya.

Duh, bukannya fangirling tokoh utama cowoknya, saya malahan fangirling bapaknya si tokoh utama cewek <3 *dasar si Gie* *ojikon is always be ojikon*
Padahal saya lumayan suka Taiga di jilid 1, tapi kenapa di jilid 2 ini si Taiga jadi berasa "drama" banget??? Uh, yeah, emang komik ini tuh drama, drama everywhere!!!


Sabtu, 07 November 2015

[Review] Doujin Tokyo Ghoul "Assaggio" by Kuso Taisa & Mizuno Hikaru

GRANDIOSE!!!
PERFECTO!!!
MAGNIFIQUE!!!

LEZAT!!!

Saya sungguh menikmati “hidangan” ini. Sempurna. Sungguh "assaggio" yang sempurna.

4/5 bintang!!




Rabu, 04 November 2015

[Review] Doujin AkaFuri “When You Wish Upon a Star” by En-ka

2,5/5 bintang.

Saya milih doujin Enka untuk saya ulas sekarang karena eeer... saya udah beberapa kali bikin review untuk beberapa karya Enka sebelumnya, jadi rasanya lebih “mudah” dibanding bikin review untuk karya orang-orang baru—mungkin karena saya udah punya perbandingan. Juga karena saya perlu beralih ke doujin lain sebelum ngelanjutin review LN AkaFuri yang udah saya review sebagiannya.


Sampul depan: Furihata


Senin, 02 November 2015

[Review] AkaFuri Light Novel Anthology "412" Part 1 - "Glassy Dawn" by Light of Leviathan


1/5 bintang.


“Langit malam yang teduh berbintang mengecupi ufuk fajar. Seperti matanya. Seperti diri satu sama lain yang terefleksi dalam lanskap pandang mereka. Karena Akashi tidak mau Furihata terjerembab disekap gelap; hampir seperti dirinya.”

Sinopsis itulah yang kontan membuat saya langsung memilih untuk membaca fanfic terakhir di antologi ini lebih dulu. "Terjerembab disekap gelap"... hmmmmm.... kayak puisi ya?
Lalu, “Langit malam (...) mengecupi ufuk fajar” bagian ini nih yang memicu keputusan saya untuk langsung lompat ke fanfic terakhir.
Memilih kata “mengecup” untuk menyambungkan kata “langit” dan “ufuk”? Huuumm.... Gak biasa.