Cek di sini

Tampilkan postingan dengan label Joan Aiken. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Joan Aiken. Tampilkan semua postingan

Rabu, 13 Januari 2016

[Fantranslation] Joan Aiken: “A Necklace of Raindrops”

Seuntai Kalung Rintik-Hujan
Penerjemah: Anggi Virgianti


Seorang pria bernama Pak Jones hidup di dekat laut dengan sang istri. Pada suatu malam berbadai Pak Jones sedang di kebunnya saat ia melihat pohon holly di samping gerbang mulai bergoyang dan berempasan.

Sewujud suara melolong, “Tolong aku! Aku tersangkut di pohon ini! Tolong aku, kalau tidak badai akan menerpa sepanjang malam.”

Terkejut bukan kepalang, Pak Jones berjalan menghampiri pohon tersebut. Di tengah-tengahnya tampak sesosok kakek tinggi dengan jubah kelabu panjang dan janggut yang juga kelabu panjang serta mata tecemerlang yang pernah kaulihat.

“Siapa engkau?” Pak Jones berujar. “Apa yang kaulakukan di pohon holly-ku?”

Jumat, 02 Oktober 2015

30-Day Book Challenge: Day 02


Day 02 - A Book that You've Read More than 3 Times


A Necklace of Raindrops and Other Stories 
by 
Joan Aiken & Jan Pienkowski ♥♥♥♥♥ 





Saya kebetulan nemu foto yang ada Pak Pienkowski-nya pas sesi tanda tangan cetak ulang buku Necklace of Raindrops tahun 2009, jadi sekalian aja gak cuma fangirling-in bukunya, tapi juga sekaligus Pak Pienkowski-nya fufufufufufufuuuuuu~~~~ ♥♥♥*gelundungan nebarin hati penuh cinta* ♥♥♥

Kandidat saya untuk Day 02 ini (urutan acak):
1. The Secret Garden oleh Frances Hodgson Burnett
2. The Prince and the Pauper oleh Mark Twain
3. Odette: A Springtime in Paris oleh Kay Fender
4. A Necklace of Raindrops and Other Stories oleh Joan Aiken dan Jan Pienkowski

Menyeleksi buku untuk Day 02 ini sangat mudah buat saya ehehehe.... Saya tinggal ngecek buku-buku apa saja yang selaluuuuuu saya taruh di rak di dekat saya dan selalu saya bawa ke mana pun saya pindah selama ini (terutama waktu berkali-kali pindah kos selama kuliah dan awal kerja dulu); juga merupakan satu-satunya rak yang buku-buku di dalamnya saya susun dengan rapi.

Terus, saya tinggal menghitung kira-kira buku mana yang paling sering saya buka di antara keempat kandidat itu.
The Secret Garden sering saya baca ulang karena selain suka ilustrasinya (yang versi saya punya ilustratornya Tasha Tudor) saya juga demen tokoh Dickon--anak cowok yang ke mana-mana selalu dikelilingi hewan ♥

The Prince and The Pauper mungkin lebih sering saya buka dibanding Secret Garden karena saya demeeeeeen banget Kesatria Miles Hendon ♥ Dan jujur, tiap kali saya baca ulang novel Mark Twain ini, saya cuma baca ulang bagian-bagian di mana Sir Hendon ngurusin si Prince yang supeeeeeerrr egois, kekanakan, naif (atau boleh dibilang bodoh) itu dengan penuh kesabaran kayak ngurus anaknya sendiri.

Odette ini... saya demen ilustrasinya dan kisahnya yang heartwarming soal seorang kakek pengamen dan burung kecil yang selalu menemani si kakek mengamen dengan suara siulannya. Ending-nya agak sedih karena si kakek mendadak meninggal saat si burung kecil itu sedang migrasi karena musim dingin.

Tapi dibanding tiga buku itu, ternyata saya masih lebih sering membaca ulang buku Bu Aiken dan Pak Pienkowski yang Raindrops ♥
Yang saya punya sebenernya terbitan lama dan sampulnya bukan yang ada di foto ini.
Buku ini merupakan kumcer yang berisi 8 cerita fantasi yang sangaaaat manis dan menggugah imajinasi. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama dengan Bu Aiken dalam buku ini. Dengan imajinasinya yang liar dan seolah tanpa batas. Juga dengan betapa manisnya cerita-cerita beliau di sini. Khas banget. Spesial.
Buku ini udah jadi semacam "kitab suci" seorang Gie tiap kali ini menulis cerita fantasi anak. Bu Aiken adalah inspirasi tulisan-tulisan saya. Sayang, saya mengenal karya beliau setelah beliau wafat. Saya ketemu buku ini pun bisa dibilang kebetulan. Waktu itu ada bazar buku bekas di kampus yang diselenggarakan Prodi Jerman dan buku ini langsung menarik minat saya. Padahal kondisi bukunya sudah parah, halamannya sudah banyak yang lepas dari sampulnya, kotor pula. Tapi ilustrasi-ilustrasi Pak Pienkowski seolah menyihir saya untuk gak ngelepasin buku ini.
Waktu saya mau bayar, dosen native Jerman yang jaga stan memberinya gratis, katanya karena kondisi buku ini sebenernya udah gak layak jual. Saya bahagia banget waktu itu ^///w///^
Aaaaah~~~ bener-bener semacam pertemuan takdir ala-ala ketemu jodoh gitu deh ♥♥♥
R-o-m-a-n-t-i-s ♥

Btw, Bapaaaaaaaaaak~~~ saya ngefans, Pak Pienkowksi!! Bapak sama Ibu Aiken tuh udah kayak OTP saya untuk buku anak, Pak, dan saya gak pernah masang-masangin pengarang lain selama hidup saya, Pak, cuma Anda berdua, Pak~~~ ♥♥♥

Psst... sebenernya saya ada rencana buat menjadikan buku-buku Ibu Aiken (terutama yang ilustratornya Pak Pienkowski) sebagai mas kawin kalau nanti saya menikah, makanya saya menahan diri untuk gak beli-beli buku beliau dulu. Ufu ♥
(Sumber foto: achuka.co.uk)

Kamis, 01 Oktober 2015

30-Day Book Challenge: Day 01

Day 01 - Best book you read last year:

The Flower Fairies Changing Season
by
Cicely Mary Barker




"Last year" di sini saya artikan tahun 2014 dan langsung membuat saya mengobrak-abrik akun Goodreads saya untuk mengecek ulang buku-buku apa saja yang saya baca selama tahun itu.
Agak kesulitan karena ternyata cukup banyak buku yang saya daftarkan ke GR pada tahun 2014. 

Beberapa kandidat saya untuk Day 01 ini adalah (urutan acak):
1. The Kingdom Under the Sea oleh Joan Aiken dan Jan Pienkowski
2. Doukyuusei (同級生) series oleh Nakamura Asumiko
3. Peter Nimble oleh Jonathan Auxier
4. The Flower Fairies Changing Seasons oleh Cicely Mary Barker

Peter Nimble menjadi kandidat yang saya coret paling pertama karena setelah membaca ulang review sendiri di GR (ini link review saya) saya jadi teringat kembali kalau sebenarnya masih banyak kekurangan pada novel debut Auxier tersebut.

Kingdom Under the Sea adalah yang saya coret selanjutnya karena saya masih lebih menjagokan kumcer Aiken yang orisinal "A Necklace of Raindrops and Other Stories" yang sudah pernah saya post di blog ini juga.

Tersisa manga-nya Nakamura Asumiko dan picture book-nya Cicely Barker dan keduanya sama-sama kuat. Jujur, kalau bisa saya pilih keduanya deh :"( 
Nakamura Asumiko dan Cicely Barker itu enggak bisa dibanding-bandingkan. Keduanya punya spesifikasi yang berbeda, mulai dari genre sampai zaman. 
Tapi, apa boleh buat. Saya harus mengambil keputusan bulat *si Gie mulai terlalu serius untuk challenge main-main ini* dan akhirnya saya memutuskan untuk memilih buku bergambarnya Cicely Barker untuk Day 01 ini. 


Cicely Barker punya gaya gambar yang feminim yang sangat khas era 1800-an akhir menjelang 1900-an di Eropa. Klasik, cantik. Saya suka. Saya juga sama sukanya dengan gaya gambar Margaret Tarrant--dan saya baru tahu belum lama ini kalau mereka berdua (Barker dan Tarrant) adalah sahabat dan sering menggambar bersama. Pantas saja selera mereka juga sama: dunia peri, apalagi pada masa itu memang lagi booming soal peri-perian di Eropa. Makanya buku-buku mereka kebanyakan bertema peri, ehehehe....

Selain itu, buku yang saya punya ini bisa ditarik-tarik (sliding book) gitu, jadi demen mainin(?)-nya <3 <3 <3 


Senin, 26 Desember 2011

Review "A Necklace of Raindrops"



Judul buku  : A Necklace of Raindrops And Other Stories
Pengarang    : Joan Aiken (pengarang) & Jan Pienkowski (ilustrator)
Bahasa        : Inggris
Penerbit       : Puffin Books (England)
Tahun terbit : 1975
Halaman      : 125
Ukuran        : 10 x 15 cm


Berhubung yang bertugas ngisi rubrik Aksarapedia di Aksarayana #4 kali ini adalah si Gie, jadinya yang dibahas buku beginian, deh: dongeng fantasi anak <3
“A Necklace of Raindrops” ini bukan novel, melainkan sebuah kumcer. Untuk anak-anak. Sangat fantasiyah. Yang saya temukan di sebuah bazaar buku progdi Jerman kampus saya. Dan saya dikasih gratis sama orang Jermannya―karena sudah robek-robek, katanya―yang saya balas dengan ucapan terima kasih berkali-kali. Ah, betapa saya sudah jatuh cinta dengan buku ini tepat pada saat mata saya bertumbuk dengan covernya yang manis!
Dibuka dengan “A Necklace of Raindrops”, bercerita tentang seorang anak perempuan bernama Laura yang tiap ulang tahunnya diberi setetes air hujan oleh Angin Utara. Berkat kekuatan kalung-air-hujan itu, Laura bisa menghentikan dan menurunkan hujan sesuka hatinya! Malang, kalung itu dicuri dan ia harus mengejar hingga ke daratan Arabia karena kalung itu akan diberikan pada seorang putri sebagai hadiah!
Disusul “The Cat Sat on the Mat” yang membuat saya terpingkal: tidak punya baju lain, seorang anak perempuan ikut dijemur bersama bajunya yang baru dicuci! Selanjutnya ada kue pai terbang karena adonannya tercampur sejumput Langit! Kucing yang membesar karena minum susu bercampur ragi! Harimau yang mampu berlari lebih cepat dari angin!
Kekuatan cerita-cerita Aiken ini adalah gaya berceritanya yang sungguh “dongeng”. Narasi yang interaktif dengan pembaca, kalimat-kalimat pendek—yang pastinya akan digemari anak-anak, nama tokoh yang mudah diingat, latar tempat yang memang ada di dunia nyata (yang―hebatnya―tidak memudarkan efek fantasiyahnya!), deskripsi pun amat apik. Juga: nyanyian, yang merupakan nilai sangat-plus dalam cerita anak!
Satu hal lagi, walau se-fantasiyah apapun ceritanya, Aiken selalu menggunakan makhluk atau barang yang mudah dibayangkan oleh anak-anak: gajah, kucing, kue pai, permadani, kereta. Jangan harap seorang anak mau membaca cerpen fantasi yang isinya tentang spesies baru yang bahkan mendeskripsikannya bikin dahi berkerut: Zyoikn, makhluk mirip ikan dengan tanduk dan sirip bercakar yang hidup di planet Wuopge. Aduh, anak mana yang nafsu buat baca narasi sesulit itu? Saya aja males hehe~
Kurang lengkap rasanya kalau tidak membahas ilustrasinya. Masih ingat saya bilang kalau saya jatuh cinta berkat cover? Warna jingga-nila-merahmuda yang manis dan lembut, seperti saya (lho?), begitu menggoda! Sayangnya, saya enggak begitu paham soal ilustrasi, jadi saya sulit menuliskan gaya gambar Pienkowski. Yang mencolok adalah bahwa ia menggambar makhluk hidup dengan siluet-siluet hitam. Jadi, baik si Laura, Angin Utara, Putri Arabia, si kucing, si harimau, SEMUA hanya siluet hitam. Yang penuh warna hanyalah latar belakangnya.  Tapi, yah, itu, jadi pembaca bisa sesuka hati membayangkan wajah dan ekspresi para tokoh!
Eerr... apalagi ya? Ah, pesan moral. Sebuah cerita anak musti ada pesan moral, dong~ Aiken―lagi-lagi―membuat takjub saya, pesan moralnya disampaikan begitu halus, tidak menggurui!
Seperti pada cerita “The Three Travellers”, dimana dua pelancong pergi ke tempat yang sudah mereka ketahui medannya, sedangkan seorang sisanya mencoba pergi ke arah yang tidak pernah dicoba teman-temannya. Akhirnya ia menemukan sebuah tempat indah yang belum pernah dikunjungi siapapun! Ia pun mengajak teman-temannya ke sana. (cerita favorit saya, walau fantasinya tidak begitu kuat, eniwei)
Apa yang didapat seorang anak dari cerita “The Three Travellers” itu? Bahwa mencoba hal baru akan membuka kesempatan baru; pantang menyerah akan membawa hasil memuaskan; berbagi dengan teman akan membuat apapun yang dibagi terasa lebih menyenangkan.
Waduh, saya kok jadi berpanjang-lebar begini? Kalau enggak berhenti, bisa-bisa satu Aksarayana isinya cuman review buku dongeng dari saya hehe...
Kesimpulannya, “A Necklace of Raindrops” ini salah satu karya fantasi anak yang sukses! Seribu sayang, kini tidak akan ada lagi karya baru dari Aiken—beliau sudah meninggal tahun 2004.
Nah, bukankah sekarang giliran yang muda? Ayo, penulis Indonesia, coba ramaikan literasi anak :)

Gie
-yang ingin koleksi dongeng anaknya bertambah-