Cek di sini

Minggu, 06 September 2015

Fanbook Doukyuusei-Sotsugyousei (Nakamura Asumiko)



Front cover

Yeay, I bought Doukyuusei Fanbook!!! Woohoooooo~~~  ♪♪\(^ω^\)( /^ω^)/♪♪

Even if I have some friends live in Japan (for studying abroad or working), I rarely make them buying something for me when they return to Indonesia. Idk, I just don't want to trouble them to hunt what I want, then use their money for me (even if I'll pay them later), and bring my luggage all the way to Indonesia; except if they themselves offered to bring me something.
And, luckily, a friend of mine who is studying abroad asked me if there's something that I want from Japan because he'll bring it to me when he return home--and I just "Well, why not?"


Selasa, 25 Agustus 2015

[Review] The Wolf and the Hungry Boy by Refrainbow



Gak usah pake basa-basi pembukaan lah ya. Langsung aja. (Bingung mau pembukaan gimana soalnya ahahaha~)

“The Wolf and the Hungry Boy” ini komik indie yang langsung menarik minat saya semenjak baru di-publish secara online di sini. Awalnya cuma kebetulan liat ada temen Facebook yang nge-share tautannya dari akun Rayda, empunya Refrainbow ini. Sekali liat, saya langsung demen nuansa ilustrasi dan ceritanya—apalagi saya memang demen cerita-cerita fairy tale-ish.

Ah, bahasan soal konten cerita saya tunda dulu, mari kita lihat fisik bukunya.

Pertama dan terutama!!! Saya kecewa beraaaaaat dengan cetakannya. K-E-C-E-W-A B-E-R-A-T. Entah ini karena emang percetakannya gak bagus, atau emang sayanya aja yang lagi bernasip naas dan hanya punya saya aja yang cetakannya jelek *hiks*
Isi buku punya saya penuh bercak-bercak putih di TIAP halaman sebelah kiri ||orzzzz Kasihanilah sayaaaaa uweweweweweweeee~~~!!! Kalo cuma 1-2 halaman sih masih oke ya, masih bisa diterima. Ini mah dari depan sampe belakang, Emaaaaaak Q____Q Hidup ini tidak adiiiiillll wowowowowo!!!


Minggu, 16 Agustus 2015

[Cerpen] Bernard dan Lil (Beruang dan Monyet Kecil)

Bernard dan Lil (Beruang dan Monyet Kecil)

Duniamimpigie



“Kau yakin ini tempatnya, Lil?”

Pria dengan ukuran tubuh yang membuatnya berkesan mirip beruang itu bertanya, sekedar memastikan.

Yang ditanya kontan melancarkan tendangan ke betis si beruang―dengan tingginya itu, hanya sebatas itu yang mampu kakinya capai. “Sudah dari tadi kubilang, bukan! Otakmu tuh otak ikan, ya? Atau udang? Bernard, kau tolol banget sih,” suara nyaring anak kecil menyusul.

Tidak sakit, bahkan tidak berasa apa-apa; tendangan itu terlalu ringan dan kecil untuk si beruang.

“Hei, kalau selalu ngomong kasar begitu, kau tidak akan tumbuh tinggi, Lil. Dan panggilanmu akan terus ‘Lil’ meski kau sudah tua nanti,” kekehnya yang berlanjut menjadi derai tawa singkat. Jemarinya yang raksasa itu mengacak-acak topi pet yang menutupi rambut pirang kusam anak kecil di sampingnya―saking jauhnya perbedaan tinggi mereka, hanya ujung jemari sang beruang yang bisa menyentuh si bocah.

“Jadi, siapa yang akan membuka pintu ini? Aku? Atau kau?” balas si bocah sambil menepis jemari si beruang dari kepalanya dan membetulkan posisi topi petnya. Dari saku kanan jaketnya lantas ia mengeluarkan serenceng benda logam: beragam ukuran peniti, kawat besi, jepit rambut, sampai kunci kecil. “Aku yakin punya yang untuk jenis pintu ini,” imbuhnya sambil memilah-milah, lidahnya menyisiri bagian dalam deretan gigi atasnya bolak-balik—kebiasaannya saat berkonsentrasi.

“Tergantung mau dilakukan secara heboh atau tidak, Lil,” balas si beruang untuk pertanyaan si bocah. “Aku sih suka yang heboh,” lanjutnya, ada kesan geli dalam suaranya.

“Dan aku tidak,” pungkas si bocah sambil mulai memasukkan sebuah peniti berukuran sedang ke lubang kunci di pintu di hadapan mereka.

Si beruang yang dipanggil Bernard hanya angkat bahu. “Kalau aku yang kerjakan, hanya butuh satu detik untuk membuka pintu ini―bahkan mungkin tidak sampai. Kalau kau...” dia menimbang sejenak, “kali ini mungkin lima menit?”

“Tiga.”

“Baik, baik. Lima,” disusul dengus tawa mengejek saat si bocah memelototinya jengkel. “Orang bebas berpendapat, Lil,” ujarnya membela diri, yang sayangnya, membuat bocah emosian itu akhirnya meledak.

Sabtu, 15 Agustus 2015

Nyoba Nge-Blog (Lagi)

Ini sebenernya gara-gara saya merasa enggak ada lapak buat naruh cerpen-cerpen saya :"(
Maksud saya... yah, selama ini memang biasa majang di Kemudian, tapi karena udah lama vakum di sana (selain karena di sana makin sepi), saya makin kesulitan nyari lapak baru.
Nge-post cerpen di Facebook bukan pilihan bagus, menurut saya. Karena selain pembacanya temen-temen sendiri, saya juga ogah membuka setting-annya jadi public. 
Ditambah lagi, saya perlu tempat curhat *apa mungkin ini alasan utamanya? :p * dan tempat buat naruh review-review karya indie kawan-kawan saya--lagi-lagi karena kalau di Facebook khawatir tenggelam dengan cepat dan susah di-tracking kembali.

Begitulah.
Jadi, intinya saya mulai menghidupkan blog saya yang udah ditinggalin dan jadi sampah dunia maya sejak tahun 2011.
Semoga kali ini saya konsisten.
Ya, begitulah.
Haha~
/si Anggi gak jelas bener nih/

Eniwei, silakan sering-sering mampir ke sini ya! Supaya si Gie makin rajin juga nge-post di sini :p

Koleksi Buku Anak Bergambar si Gie #1









Buku anak dan dongeng bergambar memang gak pernah bikin si Gie bosen hehe o(*>ω<*)o
Kalau diurutin dari yang paling mahal (dan sulit mendapatkannya juga, tentu), itu yang "The Kingdom Under the Sea" buatan Joan Aiken dan Jan Pienkowski (udah pada lihat review saya untuk karya mereka yang lain, "A Necklace of Raindrops"?
Saya sampai perlu menghubungi beberapa toko buku online dan membanding-bandingkan harga yang mereka tawarkan. Ini pun akhirnya saya beli yang bekas (tapi kondisinya masih sangaaaaat mulus!!! ヾ(〃^∇^)ノ♪ ) meski dengan harga yang masih tergolong "WAH" juga, hiks ;______;

Selanjutnya mungkin yang paling bawah, gerombolan buku pelajaran membaca terbitan Ladybird. Apalagi bukunya berat, ongkirnya mahal ahahahaha *nangis di pojokan*

The Flower Fairies Changing Seasons  adalah yang termahal setelahnya. Itu saya temui secara kebetulan di pojok buku (saya bilang "pojok" karena benar-benar di pojok!) di sebuah swalayan yang gak saya sangka-sangka punya koleksi buku impor yang lumayan <3
Isinya cantiiiiik bener. Dan bisa dimain-mainin (?) dengan narik gambarnya ke bawah supaya gambarnya berganti rupa hehehe~

Balalaika isinya benar-benar cantik dengan ilustrasi-ilustrasi perempuannya yang menawan. Recommended banget. Bukan impor, dan bisa ditemui di toko-toko buku lokal. Diterbitkan oleh Penerbit Erlangga Kids tahun 2009.

Sementara Balalaika menang dengan ilustrasinya yang cantik, Ekor si Paus punya ilustrasi yang berkesan "ajaib" dan cute. Asik banget ngeliat isinya yang warna-warni. Sama, diterbitin sama Erlangga juga, jadi bisa ditemui di toko-toko buku lokal.

Balalaika, Ekor si Paus, dan A Kiss Goodnight saya beli saat ada bazaar buku murah di Depok. Bahagia bangeeeeet dapet buku-buku bagus dengan harga murah!! Hehehehe~ Kalau ada yang murah, napa harus beli yang mahal kan?

Udah, udah. Lain kali saya pamer (?) koleksi buku-buku saya yang lain lagi hehehehe └(★o★)┐

Review Novel: The Penderwicks


Sederhana, cuma cerita soal liburan musim panas keluarga Penderwicks. Ya, novel ini HANYA menceritakan soal apa yang terjadi selama liburan musim panas.

Buku yang lembut, heart-warming, soal keluarga dan persahabatan.  Karakterisasinya juga kuat. Padahal keluarga Penderwicks punya empat anak perempuan, tapi saya bisa mengenali mereka hanya dari dialognya ;)

Saya sukaaaaaa karakter Jeffrey di cerita ini. Sampai-sampai setelah membaca buku ini, saya menulis cerita dengan tokoh anak laki-laki seperti Jeffrey :P


Review dan rating saya mengenai buku ini bisa dilihat juga di Goodreads: https://www.goodreads.com/review/show/279980616?book_show_action=false


Senin, 26 Desember 2011

Review "A Necklace of Raindrops"



Judul buku  : A Necklace of Raindrops And Other Stories
Pengarang    : Joan Aiken (pengarang) & Jan Pienkowski (ilustrator)
Bahasa        : Inggris
Penerbit       : Puffin Books (England)
Tahun terbit : 1975
Halaman      : 125
Ukuran        : 10 x 15 cm


Berhubung yang bertugas ngisi rubrik Aksarapedia di Aksarayana #4 kali ini adalah si Gie, jadinya yang dibahas buku beginian, deh: dongeng fantasi anak <3
“A Necklace of Raindrops” ini bukan novel, melainkan sebuah kumcer. Untuk anak-anak. Sangat fantasiyah. Yang saya temukan di sebuah bazaar buku progdi Jerman kampus saya. Dan saya dikasih gratis sama orang Jermannya―karena sudah robek-robek, katanya―yang saya balas dengan ucapan terima kasih berkali-kali. Ah, betapa saya sudah jatuh cinta dengan buku ini tepat pada saat mata saya bertumbuk dengan covernya yang manis!
Dibuka dengan “A Necklace of Raindrops”, bercerita tentang seorang anak perempuan bernama Laura yang tiap ulang tahunnya diberi setetes air hujan oleh Angin Utara. Berkat kekuatan kalung-air-hujan itu, Laura bisa menghentikan dan menurunkan hujan sesuka hatinya! Malang, kalung itu dicuri dan ia harus mengejar hingga ke daratan Arabia karena kalung itu akan diberikan pada seorang putri sebagai hadiah!
Disusul “The Cat Sat on the Mat” yang membuat saya terpingkal: tidak punya baju lain, seorang anak perempuan ikut dijemur bersama bajunya yang baru dicuci! Selanjutnya ada kue pai terbang karena adonannya tercampur sejumput Langit! Kucing yang membesar karena minum susu bercampur ragi! Harimau yang mampu berlari lebih cepat dari angin!
Kekuatan cerita-cerita Aiken ini adalah gaya berceritanya yang sungguh “dongeng”. Narasi yang interaktif dengan pembaca, kalimat-kalimat pendek—yang pastinya akan digemari anak-anak, nama tokoh yang mudah diingat, latar tempat yang memang ada di dunia nyata (yang―hebatnya―tidak memudarkan efek fantasiyahnya!), deskripsi pun amat apik. Juga: nyanyian, yang merupakan nilai sangat-plus dalam cerita anak!
Satu hal lagi, walau se-fantasiyah apapun ceritanya, Aiken selalu menggunakan makhluk atau barang yang mudah dibayangkan oleh anak-anak: gajah, kucing, kue pai, permadani, kereta. Jangan harap seorang anak mau membaca cerpen fantasi yang isinya tentang spesies baru yang bahkan mendeskripsikannya bikin dahi berkerut: Zyoikn, makhluk mirip ikan dengan tanduk dan sirip bercakar yang hidup di planet Wuopge. Aduh, anak mana yang nafsu buat baca narasi sesulit itu? Saya aja males hehe~
Kurang lengkap rasanya kalau tidak membahas ilustrasinya. Masih ingat saya bilang kalau saya jatuh cinta berkat cover? Warna jingga-nila-merahmuda yang manis dan lembut, seperti saya (lho?), begitu menggoda! Sayangnya, saya enggak begitu paham soal ilustrasi, jadi saya sulit menuliskan gaya gambar Pienkowski. Yang mencolok adalah bahwa ia menggambar makhluk hidup dengan siluet-siluet hitam. Jadi, baik si Laura, Angin Utara, Putri Arabia, si kucing, si harimau, SEMUA hanya siluet hitam. Yang penuh warna hanyalah latar belakangnya.  Tapi, yah, itu, jadi pembaca bisa sesuka hati membayangkan wajah dan ekspresi para tokoh!
Eerr... apalagi ya? Ah, pesan moral. Sebuah cerita anak musti ada pesan moral, dong~ Aiken―lagi-lagi―membuat takjub saya, pesan moralnya disampaikan begitu halus, tidak menggurui!
Seperti pada cerita “The Three Travellers”, dimana dua pelancong pergi ke tempat yang sudah mereka ketahui medannya, sedangkan seorang sisanya mencoba pergi ke arah yang tidak pernah dicoba teman-temannya. Akhirnya ia menemukan sebuah tempat indah yang belum pernah dikunjungi siapapun! Ia pun mengajak teman-temannya ke sana. (cerita favorit saya, walau fantasinya tidak begitu kuat, eniwei)
Apa yang didapat seorang anak dari cerita “The Three Travellers” itu? Bahwa mencoba hal baru akan membuka kesempatan baru; pantang menyerah akan membawa hasil memuaskan; berbagi dengan teman akan membuat apapun yang dibagi terasa lebih menyenangkan.
Waduh, saya kok jadi berpanjang-lebar begini? Kalau enggak berhenti, bisa-bisa satu Aksarayana isinya cuman review buku dongeng dari saya hehe...
Kesimpulannya, “A Necklace of Raindrops” ini salah satu karya fantasi anak yang sukses! Seribu sayang, kini tidak akan ada lagi karya baru dari Aiken—beliau sudah meninggal tahun 2004.
Nah, bukankah sekarang giliran yang muda? Ayo, penulis Indonesia, coba ramaikan literasi anak :)

Gie
-yang ingin koleksi dongeng anaknya bertambah-