Cerpen yang saya buat atas permintaan Tsukiha Tsukiharu, Agustus 2020. Ditulis dengan gaya light novel jepang. Drama, school-life, romance, siblings.
Saat Hisakawa Tsukasa masuk ke kelas 2-2, ia merasa ada
antusiasme yang berbeda dari biasanya di kelasnya. Tsukasa segera menuju bangkunya
dan meletakkan tasnya. Dua kawan baiknya, Seshomaru dan Mikio, segera bergabung
dengannya dan menginformasikan hal menarik.
“Katanya akan ada murid baru,” Sesho, lelaki bertubuh besar dan
jagoan tim basket, memulai topik sembari duduk di kursi kosong di depan
Tsukasa.
“Ho~ tak heran kenapa kelas berasa lebih antusias,” Tsukasa
mengangguk, “cewek?” pemuda itu bertanya.
“Yeps,” Mikio, cowok paling pendek di kelas yang terkenal
sebagai gentleman playboy, mengangguk, “dan dengar
ini: katanya dia pindahan dari Himegasaki, lho!”
Himegasaki? Tsukasa merasa familiar dengan nama itu. Ah, tentu
saja. Sekolah khusus perempuan yang konon hanya berisi ojou-sama, anak
orang kaya dan genius. Sekolah khusus tuan putri. Sekolah itu ada di kota
sebelah jadi banyak juga siswi di kota ini yang bersekolah di sana.
“Kenapa ada anak Himegasaki ke sekolah mediocre begini?” Tsukasa bertanya balik.
“Mediocre, katanya,”
Seshomaru tertawa. “Meski ini sekolah negeri, jangan remehkan reputasi kita
gitu dong. Kamu sendiri baru saja memenangkan turnamen prefektur kendo.”
“Nggak, lah! Dibandingkan Himegasaki, kita ini memang sekolah
biasa, kan?” Mikio mengelak. “Sekolah ini terkenal cuma karena menang turnamen.
Himegasaki, dari sejak dibangun, itu sekolah untuk orang elite.”
Himegasaki, eh? Tsukasa menghela napas. Ia tahu seseorang yang
bersekolah di sana. Lamunan Tsukasa dan obrolan ketiga laki-laki muda itu
kemudian terinterupsi bel sekolah dan beberapa menit kemudian, wali kelas
mereka, Keichirou-sensei, memasuki
kelas.
“Oke, sudah duduk semuanya?”
Keichirou-sensei
menatap seisi kelas, kemudian mengangguk, “Sebelum aku melakukan absensi, akan
kuperkenalkan murid baru di kelas ini. Masuklah, Oosaki-san.”
Seorang gadis memasuki kelas penuh percaya diri. Rambut panjang
hitamnya tergerai indah dan gerakannya anggun. Entah kenapa ia masih mengenakan
seragam Himegasaki, blazer biru muda dan rok selutut hitam.
“Nama saya Oosaki Tsukuyo. Salam kenal, semuanya.”
Ia membungkukkan badan. Saat berdiri kembali, kedua matanya yang
terlapisi kacamata, mengecek seisi kelas.
“Kalian bisa berkenalan lebih lanjut nanti saat homeroom
selesai,” Keichirou-sensei
melanjutkan, “Oosaki-san, kau bisa
duduk di sebelah Tsukasa,” ujarnya, menunjuk bangku kosong di sebelah Tsukasa.
Sang murid baru menatap bangku kosong itu lalu matanya bertemu
dengan Tsukasa. Wajah gadis itu tampak terkejut sejenak, namun kemudian
tersenyum lebar. Tsukasa sendiri juga terkejut, namun ia hanya diam, berusaha
tidak menunjukkan ekspresi. Saat akhirnya Tsukuyo duduk di bangku di sebelah
Tsukasa, Keichirou-sensei mulai
memanggil nama-nama muridnya, mengecek siapa yang hari ini hadir.
“Lama tak jumpa, Nii-san,”
Tsukuyo berbisik, cukup keras untuk didengar Tsukasa namun tak terlalu keras
sampai orang lain mendengarnya.
Tsukasa melirik ke arahnya dan memberikan senyuman kecil, “Sejak
SD, kan ya? Aku dengar dari Ayah kau masuk Himegasaki, tapi aku tak tahu kau
pindah ke sini.”
“Ah, ada alasan kenapa aku harus meninggalkan Himegasaki,” wajah
Tsukuyo tampak suram.
Tsukasa merasa telah menginjak ranjau jadi ia segera mengganti
topik, “Kulihat kau sudah semakin besar,” ujarnya sembari tersenyum kecil.
“Nii-san, itu sekuhara
lho,” Tsukuyo membalas dengan cekikik.
“Hoi, Tsukasa! Jangan coba menggoda anak baru di tengah homeroom,”
Keichirou-sensei berteriak marah.
“Hahaha, maaf, Sensei,”
balas Tsukasa ringan. Ia kemudian menatap gadis di sebelahnya, “Aku masih perlu
tahu kenapa kamu bisa ada di sini.”
Tsukuyo hanya mengangguk dengan wajah masam.
*
