Cek di sini

Rabu, 25 November 2020

[COMMISSION] Reforged Relationship - Tsukiha Tsukiharu


Cerpen yang saya buat atas permintaan Tsukiha Tsukiharu, Agustus 2020. Ditulis dengan gaya light novel jepang. Drama, school-life, romance, siblings.


Saat Hisakawa Tsukasa masuk ke kelas 2-2, ia merasa ada antusiasme yang berbeda dari biasanya di kelasnya. Tsukasa segera menuju bangkunya dan meletakkan tasnya. Dua kawan baiknya, Seshomaru dan Mikio, segera bergabung dengannya dan menginformasikan hal menarik.

“Katanya akan ada murid baru,” Sesho, lelaki bertubuh besar dan jagoan tim basket, memulai topik sembari duduk di kursi kosong di depan Tsukasa.

“Ho~ tak heran kenapa kelas berasa lebih antusias,” Tsukasa mengangguk, “cewek?” pemuda itu bertanya.

“Yeps,” Mikio, cowok paling pendek di kelas yang terkenal sebagai gentleman playboy, mengangguk, “dan dengar ini: katanya dia pindahan dari Himegasaki, lho!”

Himegasaki? Tsukasa merasa familiar dengan nama itu. Ah, tentu saja. Sekolah khusus perempuan yang konon hanya berisi ojou-sama, anak orang kaya dan genius. Sekolah khusus tuan putri. Sekolah itu ada di kota sebelah jadi banyak juga siswi di kota ini yang bersekolah di sana.

“Kenapa ada anak Himegasaki ke sekolah mediocre begini?” Tsukasa bertanya balik.

Mediocre, katanya,” Seshomaru tertawa. “Meski ini sekolah negeri, jangan remehkan reputasi kita gitu dong. Kamu sendiri baru saja memenangkan turnamen prefektur kendo.”

“Nggak, lah! Dibandingkan Himegasaki, kita ini memang sekolah biasa, kan?” Mikio mengelak. “Sekolah ini terkenal cuma karena menang turnamen. Himegasaki, dari sejak dibangun, itu sekolah untuk orang elite.”

Himegasaki, eh? Tsukasa menghela napas. Ia tahu seseorang yang bersekolah di sana. Lamunan Tsukasa dan obrolan ketiga laki-laki muda itu kemudian terinterupsi bel sekolah dan beberapa menit kemudian, wali kelas mereka, Keichirou-sensei, memasuki kelas.

“Oke, sudah duduk semuanya?”

Keichirou-sensei menatap seisi kelas, kemudian mengangguk, “Sebelum aku melakukan absensi, akan kuperkenalkan murid baru di kelas ini. Masuklah, Oosaki-san.”

Seorang gadis memasuki kelas penuh percaya diri. Rambut panjang hitamnya tergerai indah dan gerakannya anggun. Entah kenapa ia masih mengenakan seragam Himegasaki, blazer biru muda dan rok selutut hitam.

“Nama saya Oosaki Tsukuyo. Salam kenal, semuanya.”

Ia membungkukkan badan. Saat berdiri kembali, kedua matanya yang terlapisi kacamata, mengecek seisi kelas.

“Kalian bisa berkenalan lebih lanjut nanti saat homeroom selesai,” Keichirou-sensei melanjutkan, “Oosaki-san, kau bisa duduk di sebelah Tsukasa,” ujarnya, menunjuk bangku kosong di sebelah Tsukasa.

Sang murid baru menatap bangku kosong itu lalu matanya bertemu dengan Tsukasa. Wajah gadis itu tampak terkejut sejenak, namun kemudian tersenyum lebar. Tsukasa sendiri juga terkejut, namun ia hanya diam, berusaha tidak menunjukkan ekspresi. Saat akhirnya Tsukuyo duduk di bangku di sebelah Tsukasa, Keichirou-sensei mulai memanggil nama-nama muridnya, mengecek siapa yang hari ini hadir.

“Lama tak jumpa, Nii-san,” Tsukuyo berbisik, cukup keras untuk didengar Tsukasa namun tak terlalu keras sampai orang lain mendengarnya.

Tsukasa melirik ke arahnya dan memberikan senyuman kecil, “Sejak SD, kan ya? Aku dengar dari Ayah kau masuk Himegasaki, tapi aku tak tahu kau pindah ke sini.”

“Ah, ada alasan kenapa aku harus meninggalkan Himegasaki,” wajah Tsukuyo tampak suram.

Tsukasa merasa telah menginjak ranjau jadi ia segera mengganti topik, “Kulihat kau sudah semakin besar,” ujarnya sembari tersenyum kecil.

Nii-san, itu sekuhara lho,” Tsukuyo membalas dengan cekikik.

“Hoi, Tsukasa! Jangan coba menggoda anak baru di tengah homeroom,” Keichirou-sensei berteriak marah.

“Hahaha, maaf, Sensei,” balas Tsukasa ringan. Ia kemudian menatap gadis di sebelahnya, “Aku masih perlu tahu kenapa kamu bisa ada di sini.”

Tsukuyo hanya mengangguk dengan wajah masam.

*

Senin, 24 Agustus 2020

Fanfic SabiGiyuu - Limun Soda


Di hari yang terik sebelum memasuki libur musim panas itu, Sabito jarang-jarang berkesempatan menghabiskan istirahat makan siang bersama dua sahabat terbaiknya, Makomo dan Giyuu. Kali ini, mereka memilih duduk di bawah bayang-bayang di atap sekolah yang berangin.

Selasa, 10 Oktober 2017

[Cerpen] Kucing Abu, Bocah Merah, dan Tali Rafia

Kucing Abu, Bocah Merah, dan Tali Rafia
(Duniamimpigie)


Kakek Abu adalah seekor kucing berwarna abu yang sudah sangat tua. Suatu ketika ia mendapati ekornya telah diikat oleh anak-anak manusia dengan tali rafia berwarna merah—yang di matanya tampak usang, lusuh, kumal, dan penuh keburukan.
Kakek Abu sangat benci tali rafia di ekornya itu. Sejak ia memiliki tali itu di ekornya, ia jadi sangat mencolok perhatian dan tampak konyol. Manusia dewasa memang awamnya hanya lirik dan abai, namun anak-anak kerap menunjuk-nunjuknya dengan heboh dan bising, yang lantas mengajak orang dewasa memperhatikannya dan turut menunjuk-nunjuknya pula.
Yang lebih membuatnya tak tahan, justru seringai mencemooh dari sesama kucing dan para anjing yang jadi musuh bebuyutannya.
Sudah sekian minggu ia mencoba melepas tuntas tali rafia di ekornya itu dengan beragam cara: digigit, dicakar, dibenturkan ke dinding, dikaitkan ke paku, dan sebagainya; namun semua itu hanya berakhir dengan kegagalan.
Alih-alih, ia malah merasa tali rafia merah yang kusut, kotor, dan jelek itu seolah semakin terikat erat di ekornya.
Kakek Abu benci. Benci sekali. Terhadap tali rafia merah buruk rupa sekaligus sekelompok anak kecil bandel yang mengikatkan tali itu di ujung ekornya tempo lalu.
Tak habis pikir, apa tujuan mereka melakukannya? Apakah mengikat tali di ekor kucing itu sesuatu yang menghibur buat manusia? Untuk lantas ditertawakan bersama-sama? Heran. Heran. Heran. Marah. Sedih.

Tuhan, tolong lepaskan tali rafia merah yang warnanya pudar dan buruk rupa ini dari ekorku, batin Kakek Abu.

***

Sabtu, 04 Maret 2017

[Cerpen] Pagi / Untaian Jemari

Pagi / Untaian Jemari
(Duniamimpigie)


Sekonyong-konyong ia berbalik. Matanya menemukanku.

“Kok bisa tahu?”tanyaku, polos, penasaran.

Ia mengedikkan dagu, mengarah ke balik punggungku, lalu menelusurkan jari telunjuknya yang panjang dan berbonggol kokoh dari langit hingga membentuk garis diagonal imajiner yang berakhir di aspal di sampingnya.

“Sinar mataharinya. Bikin bayanganmu kelihatan sampai ke depanku, meski kau berusaha sembunyi di belakang.”

Aku melenguh. Kecewa rencanaku mengagetkannya gagal hanya karena matahari.

“Gagal nih?” balasnya. Bukan pertanyaan, sekadar ejekan yang disertai seringai jahil penuh kemenangan. “Lain kali kalau mau iseng, tunggu sampai matahari juga mendukungmu.” Kali ini diiringi derai tawa singkat—yang kusuka.

Lalu sunyi mendadak saja kembali mengalun di jalan setapak itu, yang sisi-sisinya dijajari pohon rindang. Pagi itu sepi, namun hangatnya menyelimuti hingga ke hatiku.

Aku terlambat terkekeh geli. Lalu berlari kecil menyusul dirinya yang sengaja menungguku tak jauh di depan.

Begitu langkah kami sejajar, ia turunkan sebelah tangannya yang sedari tadi erat menggenggam tas selempangnya, untuk kemudian ditelusukkan ke sela-sela jemariku yang senggang. Seolah, memang di situlah tempatnya. Seolah, kesepuluh jemari yang saling bertaut itu merupakan kepingan-kepingan puzzle; yang kini membentuk utuh, sempurna.

Lantas kami kembali menyusuri jalan itu; dengan tangan bertaut.


21-02-2017

Jumat, 13 Januari 2017

Kamis, 26 Mei 2016

[Puisi] Nir-


Terkadang, rasa-rasaku bukan manusia.
Barangkali sesekali hewan buas, yang tak mengaum. Bukan tak mampu, hanya saja tak jemawa, tanpa taring berbesi.

Kecut, tak ingin dipecut.
Hingga hanya sanggup terpaku, tanpa hati berbaja.

Tanpa, tanpa.

Apalah, tak seorang manusia sudi kujadikan karib. Bisa jadi sebab aku buas, sesekali, manusia, sesekali?
Bilamanakah kuperoleh kembali aumanku tatkala aku mewujud membuas?
Lalu, bilamanakah kuperoleh kembali hatiku tatkala aku mewujud manusia?
Adakah diri 'kan memberi?

Nir-, Nir-.
Sebab aku hanya Nir-.


26-05-2016

Rabu, 13 Januari 2016

[Fantranslation] Joan Aiken: “A Necklace of Raindrops”

Seuntai Kalung Rintik-Hujan
Penerjemah: Anggi Virgianti


Seorang pria bernama Pak Jones hidup di dekat laut dengan sang istri. Pada suatu malam berbadai Pak Jones sedang di kebunnya saat ia melihat pohon holly di samping gerbang mulai bergoyang dan berempasan.

Sewujud suara melolong, “Tolong aku! Aku tersangkut di pohon ini! Tolong aku, kalau tidak badai akan menerpa sepanjang malam.”

Terkejut bukan kepalang, Pak Jones berjalan menghampiri pohon tersebut. Di tengah-tengahnya tampak sesosok kakek tinggi dengan jubah kelabu panjang dan janggut yang juga kelabu panjang serta mata tecemerlang yang pernah kaulihat.

“Siapa engkau?” Pak Jones berujar. “Apa yang kaulakukan di pohon holly-ku?”